Internasional
Beranda / Internasional / 60 Negara Kecam Serangan di Lebanon, 3 Pasukan Perdamaian Indonesia Tewas

60 Negara Kecam Serangan di Lebanon, 3 Pasukan Perdamaian Indonesia Tewas

Utusan Indonesia untuk PBB Umar Hadi didampingi diplomat negara-negara lain menyampaikan kecaman atas serangan terhadap pasukan UNIFIl dalam konferensi pers di markas PBB di New York,
Utusan Indonesia untuk PBB Umar Hadi didampingi diplomat negara-negara lain menyampaikan kecaman atas serangan terhadap pasukan UNIFIl dalam konferensi pers di markas PBB di New York,

TIZENESIA.COM – Gelombang kecaman internasional menguat setelah serangan di Lebanon menewaskan pasukan perdamaian asal Indonesia. Sedikitnya 60 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan sikap tegas atas insiden tersebut.

Pada Kamis malam waktu Amerika Serikat, para duta besar dari puluhan negara bergabung dengan utusan Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, dalam pernyataan bersama yang mengecam keras serangan berulang terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL.

Kecaman itu secara khusus menyoroti serangan terbaru yang menewaskan tiga personel perdamaian Indonesia yang tengah menjalankan misi di Lebanon selatan.

Puluhan Negara Soroti Serangan terhadap Pasukan Perdamaian

Dalam pernyataan bersama tersebut, negara-negara anggota juga mengungkapkan bahwa personel penjaga perdamaian dari Perancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia turut mengalami luka-luka dalam serangan yang sama.

Mereka menegaskan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ancaman terhadap pasukan penjaga perdamaian yang seharusnya dilindungi dalam konflik bersenjata.

Tak Wajib, Tapi Dianjurkan: Skema WFH Baru untuk BUMN dan Swasta

Selain itu, perhatian besar juga diberikan pada kondisi kemanusiaan yang kian memburuk di Lebanon.

Negara-negara tersebut menyoroti tingginya jumlah korban sipil, kerusakan masif terhadap infrastruktur, serta pengungsian lebih dari satu juta orang akibat eskalasi konflik.

Temuan Awal PBB: Dugaan Keterlibatan Israel dan Hizbullah

PBB mengungkapkan temuan awal terkait penyebab kematian para penjaga perdamaian.

Satu personel diduga tewas akibat tembakan tank militer Israel pada 29 Maret. Sementara dua lainnya dilaporkan tewas keesokan harinya akibat ledakan yang menurut penilaian awal PBB “kemungkinan besar dilakukan oleh kelompok Hizbullah”.

Meski demikian, investigasi lebih lanjut masih terus dilakukan untuk memastikan kronologi pasti insiden tersebut.

Iran Tahan Hormuz, Israel Gempur Lebanon di Tengah Gencatan Senjata

Indonesia dan Negara Lain Desak Perlindungan UNIFIL

Utusan Indonesia, Umar Hadi, bersama para diplomat dari berbagai negara, menyampaikan kecaman tersebut dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York, Kamis (9/4/2026).

Mereka menekankan pentingnya perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang bertugas menjaga stabilitas kawasan konflik.

Italia Panggil Dubes Israel Usai Insiden Tembakan

Sementara itu, ketegangan juga merembet ke Eropa. Pemerintah Italia memanggil duta besar Israel setelah insiden tembakan yang merusak kendaraan pasukan penjaga perdamaian mereka.

Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengonfirmasi bahwa pihaknya meminta klarifikasi langsung dari pemerintah Israel atas kejadian tersebut.

Menurut Tajani, tembakan peringatan dari militer Israel mengenai konvoi pasukan UNIFIL Italia, menyebabkan kerusakan pada salah satu kendaraan.

Fatwa Muhammadiyah soal Kripto: Boleh untuk Investasi, Bukan Alat Pembayaran

“Tembakan peringatan Israel merusak salah satu kendaraan kami. Untungnya tidak ada korban luka, namun konvoi terpaksa kembali,” ujarnya, seperti dilaporkan ANSA.

Konvoi tersebut sebelumnya sedang dalam misi menuju Beirut untuk proses repatriasi personel.

Serangan Israel Kian Intensif

Tajani juga memperingatkan adanya peningkatan signifikan dalam operasi militer Israel di Lebanon.

Ia menyebut serangan terbaru merupakan salah satu yang terbesar sejak konflik kembali memanas, dengan laporan keterlibatan hingga 150 pesawat tempur yang beroperasi di berbagai wilayah Lebanon.

Eskalasi ini memperkuat kekhawatiran internasional bahwa konflik di kawasan tersebut berpotensi semakin meluas.