Situasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas hanya sehari menjelang agenda negosiasi damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan.
Kesepakatan penghentian konflik yang baru berjalan dua pekan itu diwarnai ketegangan serius pada Jumat (10/4). Washington menuding Teheran belum menepati komitmennya untuk membuka kembali jalur strategis global, Selat Hormuz.
Di saat bersamaan, situasi kawasan semakin kompleks setelah Israel—sekutu utama AS—melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon.
Blokade Hormuz Ganggu Distribusi Energi Dunia
Hingga kini, Iran belum menunjukkan tanda akan mencabut blokade total di Selat Hormuz. Penutupan jalur vital ini berdampak langsung terhadap distribusi energi global, mengingat sebagian besar pengiriman minyak dunia melintasi kawasan tersebut.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa serangan Israel ke Lebanon menjadi salah satu faktor utama yang menghambat keputusan mereka untuk membuka kembali selat tersebut.
Di tengah tekanan tersebut, Donald Trump meluapkan kemarahan melalui media sosial. Ia menilai Iran sengaja menunda pembukaan jalur strategis itu.
Dalam pernyataan terpisah, Trump berjanji aliran minyak dunia akan segera kembali normal. Namun, ia tidak merinci langkah konkret yang akan diambil untuk memastikan hal tersebut.
Fakta Lapangan: Lalu Lintas Kapal Masih Minim
Kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang masih jauh dari stabil. Dalam 24 jam setelah pengumuman awal gencatan senjata pekan ini, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal pengangkut barang curah kering yang tercatat melintasi Selat Hormuz.
Minimnya lalu lintas ini memperkuat kekhawatiran bahwa krisis distribusi energi global belum akan mereda dalam waktu dekat.
Eskalasi Militer: Israel Serang, Hizbullah Membalas
Ketegangan semakin meningkat setelah Israel pada Jumat (10/4) mengumumkan serangan ke 10 titik di Lebanon yang disebut sebagai lokasi peluncuran rudal.
Serangan ini merupakan respons atas aksi kelompok Hizbullah yang lebih dulu meluncurkan roket ke wilayah Israel pada malam sebelumnya.
Sehari sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi serangan.
“Kami tidak akan membiarkan para agresor lolos dari hukuman. Iran akan menuntut ganti rugi atas setiap kerusakan yang ditimbulkan,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Negosiasi Damai di Pakistan dan Syarat Iran
Di tengah situasi yang terus memanas, Pakistan bergerak cepat mempersiapkan perundingan damai antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (11/4).
Negosiasi ini diharapkan menjadi momentum untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Iran mengajukan 10 poin proposal penyelesaian perang. Beberapa poin utama mencakup mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, pengakuan hak pengayaan nuklir, pencabutan sanksi internasional, serta penghentian serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa kesepakatan damai juga harus mencakup pelucutan senjata Hizbullah.
“Negosiasi akan difokuskan pada pelucutan senjata Hizbullah serta upaya membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon,” ujarnya.

