Sains
Beranda / Sains / Ilmuwan Temukan 20 Virus Baru pada Kelelawar China, 2 di Antaranya Mirip Virus Mematikan Nipah!

Ilmuwan Temukan 20 Virus Baru pada Kelelawar China, 2 di Antaranya Mirip Virus Mematikan Nipah!

Ilmuwan Temukan 20 Virus Baru pada Kelelawar China, 2 di Antaranya Mirip Virus Mematikan Nipah!
Ilmuwan Temukan 20 Virus Baru pada Kelelawar China, 2 di Antaranya Mirip Virus Mematikan Nipah!

Penemuan di perkebunan buah Yunnan memicu kekhawatiran penularan ke manusia, tapi para ahli mengingatkan pentingnya peran kelelawar dalam ekosistem.

TIZENESIA.COM – Sekelompok ilmuwan dari China berhasil mengidentifikasi puluhan mikroorganisme baru pada kelelawar yang hidup di perkebunan buah di Provinsi Yunnan. Dari 20 virus yang ditemukan, dua di antaranya memiliki kemiripan genetik dengan virus Nipah dan Hendra—dua patogen yang dikenal mematikan bagi manusia.

Deteksi Virus Baru dengan Risiko Potensial

Tim peneliti gabungan dari Yunnan Institute of Endemic Disease Control and Prevention dan Dali University menganalisis sampel dari 142 kelelawar dari 10 spesies berbeda. Hasilnya, mereka tidak hanya menemukan 20 virus baru, tetapi juga satu bakteri dan satu parasit protozoa yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya.

Dua virus yang paling mengkhawatirkan termasuk dalam kelompok henipavirus, yang dikenal mampu menginfeksi berbagai inang. Analisis genetik menunjukkan bahwa lebih dari separuh materi genetik kedua virus tersebut mirip dengan Nipah dan Hendra—virus yang memiliki tingkat kematian tinggi pada manusia meski kasusnya jarang.

“Virus-virus ini sangat mengkhawatirkan karena ditemukan terutama di ginjal kelelawar, organ yang terkait dengan produksi urin,” jelas Vinod Balasubramaniam, ahli virologi molekuler dari Monash University Malaysia, yang dikutip ScienceAlert. “Ini memicu kekhawatiran tentang kemungkinan penularan ke manusia lewat buah atau air yang terkontaminasi, jalur yang pernah dikaitkan dengan wabah sebelumnya.”

Di Balik Istilah Super Flu: Antara Fakta Medis dan Permainan Narasi

Potensi Penularan vs. Peran Ekologis Kelelawar

Kelelawar di kawasan perkebunan buah meningkatkan risiko kontak dengan manusia dan hewan ternak. Jika virus tersebut dapat melompat antarspecies, ancaman wabah baru bisa muncul.

Namun, para ahli juga mengingatkan agar tidak gegabah menilai kelelawar sebagai ancaman semata. “Sekitar 90% kelelawar di China memakan serangga dan menyelamatkan petani apel dari kerugian hingga 2 miliar dolar AS per tahun,” ungkap Alison Peel, ahli ekologi penyakit satwa liar dari University of Sydney.

“Kita punya contoh virus kerabat Nipah dan Hendra yang ternyata tidak menular ke manusia. Jadi, riset lebih lanjut diperlukan untuk memastikan tingkat risikonya,” tambahnya.

Keseimbangan antara Kewaspadaan dan Konservasi

Studi yang dipublikasikan di PLOS Pathogens ini menegaskan bahwa kelelawar menyimpan keanekaragaman hayati virus yang bisa menjadi kunci untuk memahami—dan mungkin mencegah—wabah di masa depan.

Sementara ancaman penularan perlu diwaspadai, kelelawar tetap memainkan peran vital dalam ekosistem: sebagai penyerbuk, penyubur tanah, dan pengendali hama. “Menjaga keseimbangan antara konservasi dan kewaspadaan kini semakin penting,” simpul para peneliti.

Super Flu: Virusnya Biasa, Tapi Dampak Politiknya Luar Biasa

Langkah selanjutnya: Uji laboratorium lebih mendalam diperlukan untuk menentukan seberapa besar risiko virus-virus baru ini terhadap manusia dan hewan domestik.